Zulhaima Rezna Salampessy, S.Farm.Apt 

(Alumnus Farmasi Universitas Pancasila Jakarta dan Apoteker di Yogyakarta)

Obat adalah kebutuhan utama dalam setiap insan manusia. Persoalan  medis yang sering muncul dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah ketidaktahuan terkait penggunaan obat yang benar sesuai dengan kaidah-kaidah kefarmasian dan medis pada umumnya. Sebagai contohnya ketidaktahuan masyarakat Indonesia yang seringkali menggunakan  obat antibiotik untuk mengobati segala penyakit baik itu sakit Influenza, Demam dan Batuk.

Fakta di masyarakat Indonesia sebelum tahun 2000-an terjadi di klinik umum dan puskesmas yang meresepkan  antibiotik pada penyakit flu, yang sebenarnya disebabkan virus sebagai sesuatu yang  menyedihkan, karena pasien tidak dibekali dengan anjuran penggunaan obat yang tepat, sehingga sekitar tahun 2002 mulai ada kesadaran ditandai dengan poster di Puskesmas  berisi tentang bahaya resistansi akibat kesalahan penggunaan antibiotik (Eka Rahayu Utami).

 

Menurut dr.Hari Paraton dari data WHO, tahun 2014 ada 480.000 kasus baru tuberculosis (TB) karena mikroba di dunia dan 700.000 kematian/tahun akibat bakteri resisten. Diperkirakan jika tidak ada tindakan yang efektif, tahun 2050 resistensi antimikroba (AMR) akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia tiap tahun. Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa/tahun (news.detik.com. 16/11/2016).

Tidak semua penyakit perlu diobati dengan antibiotik. Antibiotik bukan obat penurun panas, pereda batuk pilek ataupun diare. Pemberian antibiotik harus dipastikan untuk mencegah kejadian infeksi, misalnya dalam suatu tindakan operasi, serta mengobati infeksi bakteri (Wilda Mahdani. Serambinews.com 17/9/2018).

Antibiotik sendiri merupakan zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi (jamur) dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan, atau menghambat pertumbuhan kuman. Antibiotik juga terbukti memiliki manfaat bagi manusia sejak awal ditemukan sampai sekarang. Namun penggunaan yang terus meningkat, dapat menimbulkan berbagai masalah. Masalah utama adalah bakteri resistensi, terhadap berbagai jenis antibiotik yang dapat menyebabkan pengobatan penyakit infeksi dengan antibiotik tidak lagi efisien, atau bahkan menjadi lebih mahal (Sudarmano, 1986: Jurnal Fakultas Kedokteran UNPAD). Sedangkan Resistensi sendiri merupakan keadaan dimana suatu bakteri dalam tubuh manusia menjadi resistensi atau kebal terhadap antibiotik. Resistensi (kebal) ini kemudian yang membuat tubuh manusia menjadi tidak sembuh dari penyakit, dikarenakan obat yang dimakan oleh manusia menjadi tidak bekerja untuk membunuh penyakit.

Dari pemaparan hal-hal penting diatas, maka dalam kesempatan ini penulis memberi saran kepada tenaga Apoteker pada fasilitas pelayanan kesehatan baik itu Rumah Sakit, Apotik, dan Klinik agar tidak menjual antibiotik  tanpa resep dokter. Dengan letak geografis Maluku dan Maluku Utara yang berpulau-pulau, penulis harapkan tenaga apoteker melalui Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) harus berkelanjutan memberi edukasi penggunaan obat antibiotik kepada masyarakat secara luas, tentu dengan dukungan Pemerintah Daerah dari dua Propinsi tersebut. Khusus kepada masyarakat jangan menggunakan antibiotik untuk penyakit influenza, batuk, dan demam serta penyakit yang lainnya, jangan menggunakan antibiotik tanpa terlebih dahulu mendapatkan resep obat yang sesuai dari dokter. Masyarakat perlu ketahui juga penggunaan antiobiotik harus digunakan sesuai dengan dosis dan harus dihabiskan, walaupan telah sehat dari penyakit. Selain itu jangan membeli antibiotik diluar fasilitas pelayanan kesehatan serta jangan pernah berbagi antibiotik kepada orang lain walaupun memiliki gejala penyakit yang sama.

Leave a Reply