Oleh : Muhammad Adha Umar ( Mahasiswa Fakultas Hukum UAD Yogyakarta)

Kota Ternate sebagai sentral Maluku Utara tentu pertumbuhan sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya menjadi wacana hangat para intelektual muda. Pasalnya kota Ternate pada era milenial sedang berada pada poros multikulturalisme, dimana seluruh manusia di bumi pertiwi menjadikan Ternate sebagai wilayah transit terakhir hingga pada prinsipnya Ternate tidak terlepas dengan istilah ‘blending society’ atau penduduk campuran.

Begitu kompleks budaya di Kota Ternate membuat masyarakat Adat Ternate mengalami degradasi hebat, faktanya saat ini Kota Ternate mendidik masyarakat di era modern dengan konsep dinamika praktis. Hal ini dibuktikan dengan kehilangan identitas gotong royong sebagai modal membentuk masyarakat berkepedulian. Mengingat konflik horizontal 1999 memuat begitu banyak kontroversi sampai saat ini, apakah implikasi dari pengalaman historis tersebut ialah degradasi budaya?

Sebagian besar dari penduduk Ternate justru tidak benar-benar sadar bahwa hadirnya pragmatisme, membuat mereka tidak saling membutuhkan lagi. Misal pada suatu hajatan tertentu penanggung jawab hajatan yang tadinya melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan gotong royong sebagai tradisi adat Ternate mulai tergeser dengan adanya hal-hal baru yang sifatnya praktis.

Lilian Sebagai Perekat Kesejahteraan

Saling membantu satu sama lain, gotong royong, hal tersebut digambarkan dalam bingkai lian atau biasa disebut lilian oleh masyarakat adat. Namun budaya tersebut mulai terkikis zaman, padahal ada nilai yang kemudian memberi kesan positif, salah satunya silaturahmi. Lilian merupakan bentuk partisipatif masyarakat dalam agenda-agenda tertentu dan pada waktu tertentu misalnya, pelaksaan sone ma dina atau tahlilan, perayaan akikah, nikahan dan lainnya yang melibatkan masyarakat seperti; partisipasi tenaga kerja dan hal-hal serupa.

 

Pancasila menjamin setiap warga negara mendapat bagian dalam hal ekpresi kebudayaan. Penjelasan sila ke-3 dalam pancasila bahwa ‘persatuan indonesia’ dalam arti sempit yaitu berbeda budaya namun harus kokoh dalam persatuan, artinya bahwa pancasila telah mengakui keberagaman budaya di Indonesia. Bertanggung jawab terhadap budaya merupakan visi bersama agar budaya tetap utuh dalam komitmen kesatuan untuk mencapai hakikat kesejahteraan.

Lilian vs Catering

Di era milenial tentu tidak asing lagi dengan kata catering atau penyediaan makanan untuk hajatan. Sejatinya catering lahir karena suatu kebutuhan masyarakat yang meragukan kapasitas orang lain, artinya bahwa pemilik hajatan tidak sepenuhnya percaya kepada pikah yang akan terlibat dalam hajatan tersebut untuk mengolah makanan, dan demi tidak mengambil risiko atasnya maka catering sebagai alternatif penyediaan makanan.

Catering lebih manguasai struktur di berbagai kelas, meski pada awalnya dominan catering berada di kelas atas/elite namun semakin tinggi eksistensinya justru terkenal dan hampir sebagian besar masyarakat dari berbagai kelas menggunakan jasa catering. Melihat keadaan ini penulis berpendapat bahwa implikasi hadirnya catering tentu mengurangi nilai bermasyarakat yakni lilian.

Dewasa ini melihat catering merupakan kebutuhan masyarakat, namun hanya sebatas itu argumentasi tersebut, selebihnya catering hanya akan merusak tatanan kultural Ternate, hal tersebut dibuktikan dengan hilangnya modal peduli satu sama lain, mendidik masyarakat untuk bermalas-malasan, padahal sejatinya bermasyarakat adalah menemukan kesejahteraan yang hakiki. Catering juga bagian dari kesejahteraan, tetapi pada prinsipnya ini dibenturkan dengan analogi percuma kita bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi.

Menurut hemat penulis, lilian harus terus dijaga dan dilestarikan ditengah kemajuan Ternate sebagai kota jasa di Maluku Utara, mengingat banyak unsur pendukung bahwa budaya harus di pertahankan, karena pada esensinya budayalah sebagai upaya mempersatukan bangsa ini. Revitalisasi lilian tidak perlu menghilangkan catering karena catering sudah menjadi tuntutan zaman dan inovasi. Hanya perlu isi kesadaran memiliki akan kebudayaan dalam merevitalisasi lilian. Cover bisa modern, tetapi content harus tradisional.

Leave a Reply