Oleh :Ismied Usman

Sekertaris Eksekutif LKBHMI Cabang Yogyakarta

 

Samuel Simon Leibowitz adalah seorang pengacara “Lawyers” Amerika berdarah Rumania yang lahir pada tanggal 14 Agustus tahun 1893. Ia dikenal sebagai seorang pengacara yang kerap menangani kasus-kasus kriminal tingkat tinggi, dan kebanyakan ia memenangkan. Ia mulai dikenal luas sejak menangani “Kasus Scottsboro Boys” yang mana ia berhasil membebaskan Sembilan pemuda kulit hitam dari hukuman mati. Sejak saat itu, ia dikenal 9 seorang pengacara kaum lemah. Ia menyuarakan kebebasan dan keadilan bagi mereka. Tercatat ia telah berhasil membebaskan lebih dari 70 orang tak bersalah dari hukuman mati. Leibowitz meninggal dunia pada usia 76 tahun tepat pada tanggal 11 Januari 1978.

Sosok Samuel S Leibowitz jelas menempati posisi penting dalam dunia pengacara “Lawyers” di berbagai belahan bumi ini. Tak berlebihan andaikata hendak menyebutnya sebagai pengacara yang ikut menancapkan tonggak tegaknya hukum di Amerika SSerikat Kasus-kasus controversial yang ditanganinya telah ikut membesarkan nama Leibowitz. Dia bukannya hendak mencari popularitas murahan, kasus pidana yang ditangani memang membutuhkan seorang pengacara “Lawyers” handal. Tak pula dia mengejar kasus, kleinlah yang memintanya untuk menjadi pembela.

Pengacara litigasi dibidang pidana memang harus cerdas, berani, ber-networking, berdedikasi, dan pekerja keras. Semua itu ada pada diri seorang Leibowitz, bahkan yang paling menonjol adalah rasa cinta pada profesi yang digelutinya. Bagi Leibowitz, tugas utama seorang pengacara “Lawyers” adalah membela hak hukum si klien. Dia tak menghiraukan siapa orang yang dibelanya, dan apa risikonya. Itulah sebabnya, dalam daftar klien Leibowitz terdapat orang dari berbagai ras.

Keadilan bagi semua “Justice for all”, sebuah slogan pengacara “Lawyers” yang betul-betul dijadikannya pedoman. Bukan perkara mudah untuk bersikap seperti itu di Amerika era 1930-an, sebuah masa ketika rasa keadilan ditentukan oleh warna kulit. Saat itu, politik segregasi secara formal diterima di Amerika, yaitu pemisahan antara bangsa kulit putih dan kulit hitam di ranah public. Ketegangan antarkelompok berbeda warna kulit pun kerap terjadi. Salah satunya dikenal dengan peristiwa “Scottsboro Boys”, yaitu pertengkaran antara beberapa remaja kulit putih dan kulit hitam di atas kereta api yang sedang melaju.

Kisah “Scottsboro Boys” dengan dua remaja wanita kulit putih, Ruby Bates dan Victoria Price. Mereka bukan berada dalam pertengkaran. Kehadiran mereka lantaran diajak teman prianya, Lester Carer dan Orville Gilley, dua remaja kulit putih yang terlibat dalam pertengkaran. Kendati demikian, Sembilan pemuda kulit hitam tak menggangu Ruby dan Victoria.

Tiba di stasiun Port Rock, polisi menangkap semua pemuda yang terlibat perkelahian. Celaka bagi Sembilan pemuda kulit hitam, sebab dua perempuan itu mengaku diperkosa oleh sembilan remaja kulit hitam. Keterangan inilah yang membuat mereka diperiksa dan diadili.

Pengadilan hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk memvonis mereka bersalah dan harus dihukum mati. Tak ada saksi yang meringankan, bahkan para juri pun semuanya berkulit putih. Tentu saja, putusan ini mengundang protes seantero Amerika. Bahkan kaum kulit putih pun ikut berunjuk rasa dan mengecam peradilan ini. Tokoh-tokoh nasional kala itu ikut mengajukan petisi, salah seorang yang menekan petisi tersebut adalah Albert Einsten.

International Labour Defense yang mengontak Leibowitz. Menanyakan apakah Leibowitz bersedia membela Sembilan pemuda kulit hitam itu dalam sidang ulang. Sebelum memutuskan setuju, Leibowitz meminta semua berkas persidangan ditingkat pertama dan banding. Sebab, dia tak akan mau membela Sembilan pemuda itu jika memang terbukti bersalah. Leibowitz mengatakan “akan kubela mereka sampai neraka jahanam membeku” lain kesempatan ia berujar, “jika Klu Klan tidak menembak kepalaku, mereka semua akan bebas”. Akhirnya Leibowitz memang berhasil membebaskan Sembilan pemuda kulit hitam itu dari hukuman mati.

Leibowitz bukan hanya kondang dan controversial, ia juga mengantongi reputasi yang mengagumkan. Ia memenangkan hampir semua perkara pidana yang ditanganinya. Dari 78 orang terancam hukuman mati yang dibelanya, Leibowitz membebaskan 77 diantaranya. Satu perkara ditunda. Itulah sebabnya ia menjadi sosok pengacara “Lawyers” yang mahal di New York.

Sangat menarik mengikuti kisah Leibowitz ini. Banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya.dilihat pada totalitas dalam membela kliennya, sikap professionalnya tetap dilakukan sepanjang kariernya sebagai pengacara “Lawyers”.

Bukan perkara muda bagi pengacara “Lawyers” dalam menjalankan sikap seperti ini. Terutama di Indonesia yang penegakan hukumnya yang sedang carut marut. Persoalannya akan makin rumit dan dilematis ketika melakukan pembelaan.

Leave a Reply